+10 344 123 64 77

Kamis, 29 Januari 2015

Mendikbud, Anies Rasyid Baswedan Ph.D
_MG_1487Jakarta (Dikdas): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan UN bukan penentu kelulusan siswa. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Rasyid Baswedan, dalam acara Konferensi Pers tentang UN, di Gedung Ki Hadjar Dewantara, Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Jumat pagi, 23 Januari 2015.
“Kita ingin menempatkan UN pada konteks SNP. SNP itu ada banyak komponen, dan kita akan konsentrasi pada komponen itu semua,” ujar mantan Rektor Universitas Paramadina ini di hadapan para awak media.
Seperti keterangan dalam http://bsnp-indonesia.org, Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. SNP berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. SNP ini bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
SNP terdiri dari Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan Pendidikan, dan Standar Penilaian Pendidikan.
Dengan menempatkan UN dalam bingkai 8 SNP, maka kelulusan siswa diserahkan kepada sekolah.
“Kelulusan dilakukan sepenuhnya oleh sekolah dengan mempertimbangkan bukan saja beberapa mata pelajaran tapi semua aspek dari proses pembelajaran, termasuk komponen perilaku anak di sekolah,” kata Anies.
Pada kesempatan itu, Mendikbud didampingi beberapa pejabat di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Dirjen Dikdas, Dirjen Dikmen, Kepala BSNP, dan Kabalitbang.* (M Adib Minanurohim)

Ilustrasi UN
Jakarta (Dikdas): Ujian Nasional (UN) bagi siswa jenjang Sekolah Menengah Pertama/sederajat akan digelar pada 4-6 Mei 2015. Diperkirakan siswa SMP/MTs peserta UN tahun ini berjumlah 4.001.427 siswa.
Seperti biasa, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) selaku penyelenggara UN menerbitkan kisi-kisi UN. Kisi-kisi disusun berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang tercantum pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (lihat Kisi-kisi UN 2014/2015)
Berbeda dengan tahun lalu, mulai tahun ini Pemerintah cq. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak menggunakan nilai UN untuk menentukan kelulusan siswa. Menurut Mendikbud Anies Baswedan, kelulusan siswa sepenuhnya menjadi wewenang sekolah. Sekolah akan menggelar ujian evaluasi dan ujian akhir sekolah untuk menentukan kelulusan siswa.
“Saya percayakan 100% kelulusan murid ditentukan oleh sekolah,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Ki Hadjar Dewantara, Kompleks Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Jumat pagi, 23 Januari 2015.
Perubahan lain ihwal UN yaitu pemberian Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional kepada siswa yang berhasil mendapatkan nilai UN yang memuaskan. Surat ditujukan kepada siswa dan orang tua siswa yang berisi nilai tes, kategorisasi/levelling dan deskripsi, dan diagnostik untuk perbaikan. Hasil tersebut akan diumumkan pada 10 Juni 2015.* (Billy Antoro)

sumber : http://dikdas.kemdikbud.go.id

Jumat, 15 Agustus 2014

Jakarta, Kemdikbud --- Ajang pemilihan pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) berprestasi tahun 2014 jenjang pendidikan dasar dan menengah dimulai, Rabu (13/08) malam. Acara yang dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh tersebut dipenuhi harapan positif agar dengan kompetisi seperti ini semakin banyak PTK yang berprestasi dan berdedikasi.


Mendikbud mengatakan,  untuk mewujudkan harapan tersebut PTK yang akan berkompetisi kali ini memiliki tugas untuk menjadi pengimbas. Fungsi pengimbas ini menjadi cara untuk membangun budaya apresiasi konstruktif. “Karena budaya memberi apresiasi itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang berprestasi,” katanya saat membuka acara pemilihan PTK berprestasi tingkat nasional tahun 2014 di Jakarta, Rabu (13/08).

Orang yang pernah berprestasi, lanjutnya, tentu pernah merasakan sulitnya untuk menjadi berprestasi. Prestasi yang telah diraih oleh para PTK yang lolos hingga tingkat nasional ini hendaknya dapat ditularkan kepada rekan-rekan maupun generasi berikutnya sehingga memiliki semangat untuk berprestasi juga.

Tidak hanya sebagai pengimbas, Mendikbud meminta para guru dan tenaga kependidikan juga menjadi sumber keteladanan. Guru, kata dia, tidak sekadar mengajarkan. Lebih dari itu, jika diulas dari sisi kebahasaan, guru diartikan sebagai cahaya penembus kegelapan. “Kalau dari istilah aslinya, bahasa Sansekerta maknanya “gu” itu kegelapan dan “ru” itu cahaya yang mampu menembus kegelapan itu,” katanya.

Dengan peran tersebut, Mendikbud berharap agar para guru dan tenaga kependidikan dapat dengan sepenuh hati menyiapkan generasi emas tahun 2045. Anak anak usia 0-9 tahun di tahun 2013 kemarin tercatat sebanyak 46 juta, usia 10-19 tahun sebanyak 44 juta. Total anak-anak usia 0-19 tahun di Indonesia adalah 90 juta. Anak-anak inilah yang pada 2045 nanti berusia 35-54 tahun. “Mereka itulah yang nanti akan mengelola negara yang kita cintai ini. Dari tangan halus bapak ibu sekalian yang akan mengantarkan mereka menjadi generasi emas,” katanya. (Aline Rogeleonick)

Senin, 15 Juli 2013

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh optimistis semua guru yang ditunjuk Kementerian mampu mengajarkan materi pendidikan dengan konsep menerapkan kurikulum 2013 mulai Senin, 15 Juli 2013. Menurut Nuh, semua guru selama ini sudah terbiasa mengajar sehingga untuk menerapkan kurikulum 2013 sehingga tidak memerlukan persiapan lama.

"Ada buku pegangan guru, mereka juga diberi pelatihan dan buku pegangan siswa juga ada. Mereka tinggal melaksanakan saja. Masak tidak berani mengajar?" kata Nuh di sela kunjungannya ke Yogyakarta memantau pendistribusian buku pegangan siswa ke sejumlah sekolah pada Ahad, 14 Juli 2013.

Kementerian sudah sudah merampungkan pelatihan bagi 61.074 guru yang mengajar di sekolah yang menjadi tempat penerapan kurikulum baru. Mereka terdiri atas 572 instruktur nasional, 4.740 guru inti, dan 55.762 guru sasaran. "Pelatihan bagi guru akan terus dilaksanakan. Tahun ajaran 2015/2016 semua sekolah harus bisa memberlakukan kurikulum baru," ujar Nuh.

Nuh menjelaskan, guru yang mengajarkan materi kurikulum baru terus dipantau selama setahun mendatang. Mereka juga akan menerima pendampingan dari guru inti agar bisa cepat beradaptasi dengan kurikulum 2013. "Perkembangannya akan terus kami pantau selama setahun ini," ucap Nuh.

Mulai Senin, 15 Juli 2013, Kementerian Pendidikan memutuskan kurikulum baru akan diterapkan di 6.326 sekolah yang ada di 33 provinsi atau 295 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Nuh memastikan sekitar 8 juta eksemplar lebih buku pegangan siswa sudah didistribusikan ke semua sekolah itu hingga pekan ini.

Selain itu, kurikulum baru ini juga akan diterapkan pada 1.006 sekolah lainnya yang mendaftar secara mandiri. Pembiayaan pelaksanaan kurikulum baru di sekolah, yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dan 14 kabupaten dan kota di berbagai provinsi lainnya, itu dibiayai masing-masing pemerintah daerah.


www.tempo.co